Minggu, 26 Mei 2013


Kesantunan Bahasa Anak Didik Sebagai Realisasi Kecerdasan Sosial Anak
Oleh: Anggitya Alfiansari A310100262

Manusia merupakan makhluk individu dan sosial. Sebagai makhluk sosial dalam kesehariannya tidak bisa lepas dari ketergantungannya dengan orang lain. Menyadari akan perannya dalam kehidupan sosial, maka sangat diperlukan adanya sarana untuk membina kerjasama dengan orang lain. Menurut Gorys Keraf (1991 : 3) fungsi bahasa dibagi menjadi lima, yaitu: (1) fungsi informasi, (2) fungsi ekspresi diri, (3) fungsi adaptasi dan integrasi, (4) fungsi kontrol sosial/direktif, dan (5) fungsi fatik. Bahasa berfungsi informasi digunakan untuk menyampaikan informasi timbal balik antar anggota masyarakat. Fungsi ekspresi diri berarti bahasa dipakai untuk menyalurkan perasaan, sikap, dan tekanan-tekanan dalam diri pembicara atau penutur. Fungsi adaptasi dan integrasi, bahasa dipakai sebagai sarana untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat. Bahasa berfungsi sebagai kontrol sosial/direkltif, artinya bahasa tersebut digunakan untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain atau lawan tutur. Bahasa juga memiliki fungsi fatik artinya bahasa tersebut dipakai untuk membuka jalur komunikasi dan menjaga relasi sosial antar anggota masyarakat.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa bahasa memiliki peran yang besar dalam kegiatan berkomunikasi. Melalui perantara bahasa seseorang bisa membina dan menjalin hubungan satu sama lain. Komunikasi yang dilakukan diharapkan mampu memenuhi syarat antara penutur dan mitra tutur. Hubungan komunikasi yang dilakukan diharapkan bisa dipahami dan dimengerti antara penutur dan mitra tutur.
Berkomunikasi secara baik sebenarnya tidak lepas dari pemakaian bahasa secara baik juga dalam arti etika berbahasa perlu dijaga. Inilah yang kemudian timbul istilah kesantunan berbahasa. Kesantunan berbahasa, baik secara lisan maupun tulis bertujuan untuk menciptakan keharmonisan berkomunikasi. Pemilihan kata, kalimat atau tuturan secara santun diharapkan tidak menyinggung perasaan mitra tuturnya.
Tindak tutur (speech act) atau tindak ujar atau tindak bahasa mempunyai kedudukan penting di dalam pragmatik. Dikatakan penting, karena dengan tindak tuturlah manusia dapat berkomunikasi dan tindak tutur merupakan inti pembicaraan pragmatik sesungguhnya.


Sopan santun berbahasa di social masyarakat bisa ditunjukkan tidak hanya dalam bentuk tindakan, melainkan juga dalam bentuk perkataan. Misalnya, seorang anak berkata kepada orang dewasa “Pakdhe koe arep lungo nyandi?” ujaran  tersebut jelas tidak sopan, karena seorang anak berusia 8 tahun berkata kepada seseorang yang berusia 40 tahun. Seharusnya anak tesebut berkata “pakdhe panjenengan bandhe tindak wonten pundi?”   
Tentu saja kesantunan bahsa anak didik sangat mempengaruhi realisasi kecerdasan social. Seseorang berpendidikan dengan seseorang yang tidak berpendidikan bias dilihat dari ujarannya. Mereka yang berpendidikan akan mamampu memilih kata dan kalimat  mana yang tepat dalam ujaran. Kesantunan dapat dilihat dari berbagai segi dalam pergaulan sehari-hari. Kesantunan memperlihatkan sikap yang mengandung nilai sopan santun atau etika dalam pergaulan sehari-hari. Ketika orang dikatakan santun, dalam diri seseorang itu tergambar nilai sopan santun atau nilai etika yang berlaku secara baik di masyarakat tempat orang itu mengambil bagian sebagai anggotanya.
Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komunikasi demi kelancaran komunikasi. Berikut ini contoh perckapan dalam bahasa Jawa. Seorang anak laki-laki bernama Armin berusia 15 tahun dengan Dedi berusia 25 tahun.
Contoh:
Armin: ehh jipokno buku seng neng ngarepmu kui!
Dedi: sek aku ijek ngetong duit iki loh, mbok dijipok dewe!
Armin: halah, opo susae sih gor jipoke dilute.
Dedi: nyoh (melempar)
Contoh percakapan diatas memang tidak sopan karena antara Armin dengan Dedi yang terpaut usia 10 tahun tidak ada tindak tutur sopan santun. Seharusnya armin yang lebih muda bias menghormati yang lebih tua, Armin harus menggunakan bahasa yang sopan.
Kesantunan berbahasa dalam pengungkapannya terpusat kepada diri orang itu sendiri. Kesantunan berbahasa dalam pengungkappannya berdasarkan skala untung-rugi. Sapaan yang hormat dengan sapaan yang akrab; seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dalam situasi yang memungkinkan kita dapat membedakan derajat kesopanan antara perkataan yang kurang sopan, dengan perkataan yang lebih sopan. Perkataan yang terucap dan kurang sopan itu banyak bergantung pada cara mereka memmilih bahasa. Sementara itu, perkataan yang sopan berarti mereka pandai dalam memilih bahasa.

Minggu, 12 Mei 2013

tugas psikolingustik

1

2

3



4







Anggitya Alfiansari
A310100262
kelas 6E


Foto 1 yang bertuliskan "Anajining Diri Saka Ing Latih Harga Diri Seseorang Terlihat Dari Tutur Kata" merupakan sebuah petuah yang tertempel di dinding depan kelas SD Negri Ngaru-Aru 2. SD Ngaru-Aru 2 terletak di Desa Ngaru-aru, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Foto di atas saya ambil pada hari sabtu 11 Mei pukul 13.30. Tulisan tersebut menorekan  makana bahwa harga diri seseorang dilihat dari tutur kata diri seseorang. kita sebagaiseorang  pelajar harus mampu memilih dan menggunakan tutur kata yang baik, terutama kepada orang yang lebih tua. kita harus pandai bertutur dengan baik dan menggunakan bahasa yang sopan, jangan suka berkata kotor, karena harga diri kita dilihat dari sebuah perkataan kita. 

Foto 2 yang bertuliskan "Keberhasilan tidak akan terwujud bila tidak ada kemauwan dan berusaha" petuah ini tidak kalah bagusnya dengan tulisan pertama. petuah ini mengandung makna bahwa keberhasilan seseorang itu tidak tutrun dari langit artinya keberhasilan itu tidak ada yang instan alias tidak ada orang yang tiba-tiba berhasil dan sukses tanpa usaha tekand dan kemauwan. kita jika ingin menjadi orang sukses harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk menuntut ilm,u agar cita-citamu tercapai dan kamu dapat membahagiakan kedua orang tuamu tentunya.

Foto 3 yang bertuliskan "Budayakan membaca sejak dini dengan membaca kita tahu dengan isi dunia" mungkin petuah ke3 ini tidak asing lagi di telinga kita. dengan membaca kita dapat mengetahui isi dunia ini, karena membaca mengajari banyak hal.  sejak usia dini harus sudah ditanamkan untuk mencintai membaca agar kita dapat mengetahui banyak ilmu dan kita menjadi orang yang pandai. karena orang pandai itu adalah orang yang banyak membaca dan mengetahui banyak hal. tanmaklanankah membaca sejak usia dini maka kalian tidak akan rugi.